Thursday, March 26, 2015

Realitas realitas dan realitas


Setiap ku tengadahkan tangan,
telapak tangan ini terasa panas
panas akan keinginan
keinginan untuk bermimpi
bermimpi untuk memiliki
memiliki sesuatu yang hanya ada di angan
angan yang tidak pernah nyata
kenyataan adalah sifat yang hakiki

ku dongakkan kepala
ku katakan pada awan
aku tenggelam
tenggelam dalam pikiranku
akan masa lalu yang tidak pernah ada
akan masa depan yang tidak pernah nyata
dan aku kembali ke realitas saat ini
dimana aku masih bernafas
bernafas dalam realitas
realitas kehidupan...

Saturday, March 14, 2015

Waktu yang di Ejek



Ku yang tak pernah tahu jalannya hidup
terselungkup dalam kubangan tertutup
walau hati yang terus meletup
angan diri akan terus hidup

Hei sang penguasa waktu
biarkan diri ini untuk tetap hidup
menikmati hidup yang hanya satu
menikmati sejuknya udara yang terhirup

Apakah itu yang disebut akal
merusak pikiran dengan dangkal
realitas yang terus disangkal
oleh karena sepatu telah berganti sandal

Tertawa atau menangis
teriak atau terdiam
tangan gemetar untuk mangais
oleh karena diri yang telah naik pitam

Tidak aku masih Humanis
menikmati waktu penuh manis
tidak ada kejadian yang tragis
bagiku tersenyum bukan meringis



Wednesday, March 11, 2015

Humanis dan Gitar Tua

Pagi hari tampak Humanis masih terlena dalam tidurnya, waktu itu pukul 4.00 pagi. Terasa berat Humanis untuk membangunkan dirinya dari tidur pagi itu.



Dan ibunya pun masuk kedalam kamar Humanis, "Humanis..bangun nak, sudah pagi bantu ibu belanja ke pasar" terdengar suara ibunya membangunkannya lembut. "Uaahhmmmm.....ya bu.." sambil munguap Humanis bangun dari tidurnya dan berjalan sempoyongan keluar kamar, menuju kamar mandi untuk cuci muka.

Tuesday, March 10, 2015

Anak Kecil Itu Humanis




Pagi itu cuaca cerah, jalanan tampak sibuk lalu lalang pengendara. Ada Mobil, motor, sepeda, dan kereta kuda. Humanis tampak berjalan dengan menenteng tas sekolah dengan berjalan dengan sembari bermain, kadang berlari kadang berjalan mengejar waktu dentang bel sekolah SD. Walaupun bel sekolah belum berbunyi Humanis tetap berangkat pagi sekali. Cuaca hari itu sangat cerah dan dingin, dan dia sangat semangat untuk bersekolah. Humanis tidak terlalu pintar dalam pelajaran, Humanis hanya anak yang biasa tidak terlalu menonjol dalam pelajaran ataupun dikalangan teman-teman sepermainnya.



Kerap kali ia mendapatkan nilai yang sangat buruk sehingga Humanis harus menerima pelajaran di luar mata pelajaran, yaitu les privat. Dan memang Humanis tidaklah begitu pandai dalam beberapa mata pelajaran, namun hanya satu yang ia kuasai dan ia senangi yaitu pelajaran menggambar bebas. Dan dia mendapatkan nilai yang bagus dalam menggambar. Sering dia menggambar pemandangan, hewan, ataupun kehidupan aktivitas sehari-hari.

Hari menjelang malam dan Humanis harus terlelap dari sepanjang aktivitas kesehariannya, ia pun terlelap dalam tidur bersama bantal dan guling yang selalu menemaninya menjelang dia tidur....Humanis pun tertidur dan malampun perlahan-lahan berlalu....



Dan pagi telah menjelang, suara burung kecil bernyanyi diatas dahan-dahan pohon dan sebagian berkicau di seutas kabel listrik yang menjuntai. Si Humanis bangun pagi dan mendengar kabar bahwa hari itu orang tuanya akan mendapatkan tugas di luar kota dan kharus pindah tempat tinggal. Dan Humanis pun ikut pindah ke sebuah kota besar bersama orang tuanya.


Akhirnya merekapun pindah ke sebuah kota besar, dan dikota itu Humanis mendapati keadaan lingkungan yang berbeda dari tempat dia berasal. Dimana segala sesuatunya sangat sibuk, dan gedung perkotaan yang menjulang tinggi yang tak pernah ia temui sebelumnya. Humanis kegirangan dan dia sangat menyukai gedung-gedung tinggi yang ia jumpai. Beragam tingkat gedung yang ia temui, sampai ia melihat gedung yang sangat tinggi dan ia pun tertegun melihat gedung tinggi tersebut yang sama sekali di tempat Humanis berasal tidak ada sama sekali gedung semacam itu.


Ia memiliki angan-angan tinggi setelah ia pindah ke kota besar tersebut. Dan ia pun beersekolah pada sebuah sekolah menengah cukup besar di kota tempat ia tinggal, sampai pada ia pada sebuah universitas tempat ia berkuliah. Seperti pada masa kecilnya ia bukanlah seorang anak yang cukup pandai dalam hal beberapa pelajaran, dan pada akhirnya ia mengambil sebuah fakultas kesenian bidang yang ia kuasai yaitu teknik menggambar.



Beberapa tahun Humanis menyelesaikan kuliahnya, dan akhirnya ia bekerja pada dunia seni dan menjadi seorang seniman. Walau sebagai pemuda yang tak begitu populer ia telah berhasil menghasilkan beberapa karya seni yang ia banggakan, setidaknya itu satunya bidang yang Humanis bisa lakukan.


Hari pun berlalu, Humanis meniti karir sebagai seorang seniman terapan. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang pujaan hatinya. Setelah sekian lama mereka menjalin hubungan pada akhirnya merekapun berkeluarga dan telah menghasilkan dua buah hati.


Dan mereka menetap di suatu kota kecil, dan memutuskan untuk menetap dan membangun kehidupan keluarga kecil mereka di kota kecil tersebut. 


-------------00000-----------