Pagi itu cuaca cerah, jalanan tampak sibuk lalu lalang pengendara. Ada Mobil, motor, sepeda, dan kereta kuda. Humanis tampak berjalan dengan menenteng tas sekolah dengan berjalan dengan sembari bermain, kadang berlari kadang berjalan mengejar waktu dentang bel sekolah SD. Walaupun bel sekolah belum berbunyi Humanis tetap berangkat pagi sekali. Cuaca hari itu sangat cerah dan dingin, dan dia sangat semangat untuk bersekolah. Humanis tidak terlalu pintar dalam pelajaran, Humanis hanya anak yang biasa tidak terlalu menonjol dalam pelajaran ataupun dikalangan teman-teman sepermainnya.
Kerap kali ia mendapatkan nilai yang sangat buruk sehingga Humanis harus menerima pelajaran di luar mata pelajaran, yaitu les privat. Dan memang Humanis tidaklah begitu pandai dalam beberapa mata pelajaran, namun hanya satu yang ia kuasai dan ia senangi yaitu pelajaran menggambar bebas. Dan dia mendapatkan nilai yang bagus dalam menggambar. Sering dia menggambar pemandangan, hewan, ataupun kehidupan aktivitas sehari-hari.
Hari menjelang malam dan Humanis harus terlelap dari sepanjang aktivitas kesehariannya, ia pun terlelap dalam tidur bersama bantal dan guling yang selalu menemaninya menjelang dia tidur....Humanis pun tertidur dan malampun perlahan-lahan berlalu....
Dan pagi telah menjelang, suara burung kecil bernyanyi diatas dahan-dahan pohon dan sebagian berkicau di seutas kabel listrik yang menjuntai. Si Humanis bangun pagi dan mendengar kabar bahwa hari itu orang tuanya akan mendapatkan tugas di luar kota dan kharus pindah tempat tinggal. Dan Humanis pun ikut pindah ke sebuah kota besar bersama orang tuanya.
Akhirnya merekapun pindah ke sebuah kota besar, dan dikota itu Humanis mendapati keadaan lingkungan yang berbeda dari tempat dia berasal. Dimana segala sesuatunya sangat sibuk, dan gedung perkotaan yang menjulang tinggi yang tak pernah ia temui sebelumnya. Humanis kegirangan dan dia sangat menyukai gedung-gedung tinggi yang ia jumpai. Beragam tingkat gedung yang ia temui, sampai ia melihat gedung yang sangat tinggi dan ia pun tertegun melihat gedung tinggi tersebut yang sama sekali di tempat Humanis berasal tidak ada sama sekali gedung semacam itu.
Ia memiliki angan-angan tinggi setelah ia pindah ke kota besar tersebut. Dan ia pun beersekolah pada sebuah sekolah menengah cukup besar di kota tempat ia tinggal, sampai pada ia pada sebuah universitas tempat ia berkuliah. Seperti pada masa kecilnya ia bukanlah seorang anak yang cukup pandai dalam hal beberapa pelajaran, dan pada akhirnya ia mengambil sebuah fakultas kesenian bidang yang ia kuasai yaitu teknik menggambar.
Beberapa tahun Humanis menyelesaikan kuliahnya, dan akhirnya ia bekerja pada dunia seni dan menjadi seorang seniman. Walau sebagai pemuda yang tak begitu populer ia telah berhasil menghasilkan beberapa karya seni yang ia banggakan, setidaknya itu satunya bidang yang Humanis bisa lakukan.
Hari pun berlalu, Humanis meniti karir sebagai seorang seniman terapan. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang pujaan hatinya. Setelah sekian lama mereka menjalin hubungan pada akhirnya merekapun berkeluarga dan telah menghasilkan dua buah hati.
Dan mereka menetap di suatu kota kecil, dan memutuskan untuk menetap dan membangun kehidupan keluarga kecil mereka di kota kecil tersebut.
-------------00000-----------





